Design a site like this with WordPress.com
Get started

Sepanjang Jalan Kenangan Helen

Jujur, tulisan ini cukup sulit. Akan tetapi, kenangan senantiasa menolongku untuk tetap menuliskannya.

Ridwan, 1992-2092
Yang lega, karena sudah sholat setelah adzan

Kata Pengantar:

Bismillahirrahmanirrahiim. Bersama dengan basmalah, aku tuliskan Prolog agar kamu tidak kaget membacanya. Tidak lupa nanti di akhir, ku tambahkan Epilog juga. Cukup aku mengantarmu sampai sini, ya. Wassalam

Prolog:

Malam itu, tepatnya hari kamis, 2 Januari 2020, adalah malam yang begitu ramai di Braga Permai. Mungkin, malam yang cukup romantis untuk menikmati suasana jalan Braga yang dihiasi oleh berbagai pemandangan dan lantunan musik. Banyak sekali orang disana, ada yang makan, minum, diam, cerita, menyiapkan dan menyajikan hidangan. Kami memilih Braga Permai bukan tanpa alasan. Braga Permai merupakan salah satu restoran yang memiliki nilai historis tersendiri dan cukup istimewa, nanti akan ku ceritakan seberapa istimewanya restoran ini yang dahulunya bernama Maison Bogerijen. Di sini kami akan berdiskusi, apa saja yang bisa kami ceritakan selama mengikuti kegiatan ngaleut bersama Komunitas Aleut dan Pidi Baiq, kemudian menuangkannya dalam tulisan. Kegiatan tersebut memiliki nilai positif bagi kami, sama seperti Bandung Historical Study Games, yang tahun lalu kami ikuti bersama dua teman kami yang lain. Sebelum kami berbagi pengalaman di meja kecil itu, dekat dengan barista, kami memesan hidangan utama dan penutup yang cukup sederhana, tidak usah disebutkan, nanti kamu ingin diajak. Hidangan itu cukup untuk menemani diskusi panjang kami hingga benar-benar puas.

Aku mengambil buku catatan dan spidol. Tujuannya untuk menuliskan segala peristiwa yang telah kami lewati. Dia mempersiapkan mental dan pikiran agar tidak terlewat satu pun cerita kala itu, Insyaallah. Aku membuka obrolan duluan.

“Kita mulai dari mana?”

“Dari cerita aku atau kamu?”

“Dari cerita aku saja, nanti kamu tambahkan, ya?”

“Boleh”

Kemudian aku menceritakan semua yang terjadi di hari itu, tanggal 28 Desember 2019. Hari yang membuat kami lebih mengenal Bandung. Kota yang membuat kami rindu. Kota yang menyimpan segala cerita di masa lalu dan sekarang.

Babak 1:

Berharap langit cerah menyambut retina mataku pagi itu, ternyata masih gelap. Dari kejauhan, jam tangan yang tergeletak di atas meja kecil di samping kasur masih menunjukkan pukul 04.00. Sayup-sayup, terdengar suara adzan saling bersahutan, adzan subuh pikirku. Merdu sekali suaranya, malah membuatku tambah nyaman bermalas-malasan di atas kasur. Kasur yang ditutup dengan kain berwarna biru, dilengkapi dengan bantal berwarna coklat, guling yang warnanya sama dengan bantal, tapi selimutnya tidak, warnanya merah. Ku akui susah sekali bangun pagi itu. Daripada menggerutu, aku pejamkan sejenak mataku sambil berjanji dalam hati, “Bentar lagi deh, jarum panjang di angka 6!”.

Alih-alih bakal terbangun di pukul 04.30, alhasil malah terbangun di pukul 06.00. Ini bukan jarum panjangnya lagi yang di angka 6, melainkan jarum pendeknya. Terkadang, aku suka berpikir begini, mengapa saat kita memejamkan mata yang terasa singkat, selalu diikuti perubahan waktu yang begitu signifikan, ya?. Mungkin itulah mengapa ada jarum panjang dan pendek. Mengisyaratkan bahwa waktu yang diciptakan Tuhan itu benar-benar singkat. “Asbun!”.

Terdengar suara pintu kamar yang sengaja dibuka. Sudah biasa, ada Ibuku yang segera bersabda di balik pintu tanpa menunjukkan sosoknya, hanya audionya saja.

“Wan, bangun. Subuh dulu, nak!”

“Iya, mak. Ini sudah pushup

“Ayo, subuh dulu. Iwan subuh!”

“Iya, mak. Ini sudah sholat”

“Hah? Kamu tayamum?!”

Seruannya memang bikin rindu. Ibuku memang selalu rajin membangunkan anaknya yang sedikit manja dengan waktu subuh. Ayahku tidak kalah rajinnya. Ayah suka lebih tega membangunkanku, terkadang dua jam setelah adzan berkumandang. Mereka gantian tiap pagi. Seperti jadwal piket ronda. “Peace, mak, aku hanya bercanda. Semoga engkau tak sempat membacanya”.

Ah, kupaksakan saja. Sudah pukul 06.00 juga. Sudah ada rencana mau ngaleut napak tilas novel Helen dan Sukanta bersama Pidi Baiq dan Komunitas Aleut. Di Alun-alun katanya, mulainya pukul 07.30. Segera ku ambil handuk, warnanya kuning dan belum dicuci, mungkin minggu depan kalau sudah kelihatan agak gelap. Kemudian, aku masuk ke kamar mandi. Kamar mandiku tidak punya bak penampungan air, tapi Alhamdulillah masih punya pintu. Akhirnya, hanya ditampung di ember berukuran besar, warnanya hijau dan sedikit kotor luarnya. Insyaallah besok kubersihkan. Tidak lupa, aku lengkapi ember hijauku dengan gayung berwarna merah muda. Tanpa gayung, sebenarnya masih ada dua telapak tangan sebagai penadahnya yang bisa dibentuk seperti mangkuk. Akan tetapi, pasti terasa lama mandinya dan pegal nantinya . Tidak usah dijelasinlah gimana cara mandinya, nanti tulisannya terlalu senonoh. Tidak mendidik lagi, seperti tulisan sebelumnya. Malah menjadi Lampu Merah. Aku ceritakan sedikit, dahulu majalah itu begitu terkenal, kamu bisa minta ke tukang koran kalau mau. Tetapi dia tidak bakal menentengnya secara cuma-cuma, melainkan dia menyimpan selundupannya di ransel. Takut kelihatan anak-anak katanya. Kembali ke persoalan permandian, pokoknya kalau mandi harus pakai sabun biar bersih, harum, dan lembab. Kalau kesat, berarti salah sabun. Tak lupa aku menggosok gigi, biar bersih dan putih seperti Krisdayanti. Setelah melakukan berbagai ritual, aku bergegas menemui Ibuku di dapur belakang. Tidak sempat sarapan, karena terlalu buru-buru dan semangat.

“Mak, Iwan pergi dulu, ya?”

“Eh, sarapan dulu kalau mau pergi-pergi teh. Mau kemana kamu?”

“Iya, ini sudah sarapan minum susu. Ngaleut sejarah kota Bandung”

Meuni gaya. Ini ada nasi sama ayam, mamah gorengin dulu, ya?”

Nggak usah mak, udah nggak apa-apa. Assalamualaikum

Ibuku sangat baik, selalu sigap membuat sarapan tiap pagi untuk anak dan suaminya yang merangkap jabatan sebagai ayahku juga. Terima kasih Ibu.

“Yah, Iwan pergi dulu, ya? Assalamualaikum

“Hmm… Mau kemana kamu?”

“Ke Alun-alun, belajar sejarah Bandung”

“Hmm… Hati-hati”

Kala itu Ayah sibuk menonton Youtube, mencari sebuah inspirasi kelihatannya. Ayahku memang memiliki sisi seniman kalau sudah berada di rumah. Meskipun dalam dialog tersebut terkesan dingin, tetapi ayahku itu orangnya baik dan perhatian, tentu dengan caranya sendiri. Cara khawatirnya pun berbeda dengan Ibuku. Ayahku rela menunggu anaknya pulang ke rumah, meskipun hari sudah larut. Setelah memastikan anaknya sampai di rumah dengan selamat, Beliau barulah tidur. Terima kasih Ayah.

Ternyata sudah pukul 07.00 Waktu Indonesia Bandung. Aduh, dia bakal marah tidak, ya?.

HEI IYA AKU MARAH MARAH KAYA FARIDA FASYA!!!!!!!!

Tulisan di atas bukan buatanku dan sengaja tidak kuhapus, kenang-kenangan. Itu tulisan dia saat aku sedang sholat Maghrib. Siapa dia, nanti juga tahu.

Dia adalah Ketua Dewan Perwakilan Ridwan, bisa disingkat DPR. Sehari yang lalu kami sudah janjian, harus sudah ada di depan Geger Arum setengah jam sebelum pukul 07.00. Ah Bismillah saja, semoga tidak kena semprot. Aku pun segera meninggalkan rumah dan menjemputnya di tempat yang sudah dijanjikan.

Bismillahirrahmanirrahiim”.

Babak 2:

Kini motorku sudah semakin dekat ke arah Geger Arum. Batang hidungnya sudah terlihat. Senyumnya juga sudah tersungging. Dia sambil memegang HP. Mungkin dia mati gaya, anggap saja aktivitas pendukungnya. Mungkin dia sudah menyiapkan naskah epik, dialog marah-marah yang akan ditampilkan secara monolog di atas motor selama perjalanan ke alun-alun nanti. Motorku tepat berhenti di depannya. Aku hanya bisa tersenyum sambil ada ketawanya sedikit biar renyah. Dia juga ikut tersenyum sambil menatap mataku. Bola matanya bagus, warnanya coklat muda dan pupilnya hitam.

“Hehehe ..”

Euh, katanya setengah tujuh!”

“Iya euy, malah kebangunnya yang setengah tujuh. Hehehe ..”

“Padahal aku sudah suruh supir angkotnya ngebut, loh

“Ayo cepetan naik!. Kita sudah terlambat”

Sengaja langsung mengalihkan topik pembicaraan agar tidak terlalu lama debat masalah setengah tujuh. Untungnya dia mau. Cihuy.

Euh, dasar. Hahaha..”

“Sudah siap?”

“Iya, siap!”

Kami pun meninggalkan jalan Gegerkalong Hilir yang masih ramai oleh mahasiswa Universitas Padahal IKIP, disingkat UPI, melanjutkan perjalanan kami menuju Alun-alun, tempat diadakannya acara Ngaleut napak tilas novel Helen dan Sukanta. Sengaja ku sebutkan lagi nama acaranya, takut kamu sudah lupa karena kebanyakan dialog yang tidak perlunya.

Babak 3:

Kami berhenti di depan gedung Majestic, ikut parkir disana. Karena saat kami melewati Alun-alun, kami tidak menemukan tempat parkir yang nyaman.

“Disini aja, ya?”

“Iya, disini aja lebih nyaman”

“Iya, bisa ngelewatin gedung-gedung bersejarah juga, ya?”

“Iya”

Tempat parkir belum penuh oleh kendaraan roda dua maupun empat, masih terlalu pagi untuk keluar bagi warga pendatang. Terkecuali kami yang harus buru-buru ke tempat yang disepakati.

Helm-nya? Gantungin aja di spion?”

“Jangan atuh. Nanti helm kamu kebanjiran. Beginikan saja, ya?”

“Oh iya, pinter juga euy

Aku sambil membetulkan posisi helm dengan rapih, agar apabila hujan tidak banjir dalamnya.

“Ayo!”

“Sebentar, oke ayo”

Babak 4:

Kami pun bergegas meninggalkan motor yang sengaja dititipkan sejenak disana. Kami melewati Gedung Merdeka. Gedung yang dipilih sebagai check Point terakhir ketika kami mengikuti perlombaan Bandung Historical Study Games, disingkat BHSG, tahun lalu. Gedung Merdeka menyimpan sejarahnya tersendiri, salah satunya adalah penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Gedung dengan gaya arsitektur kolonial itu hingga kini masih berdiri kokoh. Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika 65 sekarang, dibangun pertama kali tahun 1895 sebagai warung kopi. Tentu bukan sembarang warung kopi. Gedung itu dulunya adalah tempat berkumpulnya para saudagar Belanda. Gedung itu pernah direnovasi pada tahun 1920 hingga 1928 dengan melibatkan dua arsitek kenamaan Belanda waktu itu yakni; Van Galenlast dan Wolf Schoemaker. Awalnya gedung itu bernama Concordia karena didirikan oleh Societeit Concordia, semacam organisasi perkumpulan opsir Belanda sebagai tempat hiburan dan bersosialisasi.

Nyebrang, yuk!”

“Ayo, mumpung agak sepi”

Kami pun melewati bawah jembatan yang dindingnya terhias quotes kenamaan. Orang yang menulisnya bisa dikatakan penting, makannya ditaruh di dinding dan dilihat oleh banyak orang.

“Perpustakaan Alun-alun itu dimana?”

“Itu gedungnya yang besar dan warnanya kecoklatan”

“Oh yang itu. Tapi kenapa tidak terlalu ramai ya?”

“Itu ramai, buktinya banyak orang yang mejeng disana”

“Bukan”

“Apanya dong?”

Nggak ada bukunya, coy

“Eh, iya. Harusnya ada, ya?”

“Mungkin hari-hari tertentu baru dikeluarkan bukunya. Saat Jawaharlal Nehru datang, ya?”

“Bodoh, terserah”

Kami pun melewati Palestine Walk sambil mengenang event BHSG tahun lalu, di mana kita harus menjawab soal terlebih dahulu, baru kita dapat menyambanginya. Ketemu panitia disana dan diberi potongan puzzle. Pembuatan Palestine Walk di Bandung tentu terkait peran Indonesia dalam menyuarakan kemerdekaan Palestina dalam Konferensi Asia Afrika. Palestine Walk menggambarkan dukungan dan komitmen masyarakat Indonesia, khususnya Kota Bandung terhadap perjuangan rakyat Palestina dan sebagai pengingat agar semangat perjuangan tersebut tetap beresonansi di hati kita.

Babak  5:

Sesampainya di Perpustakaan Alun-alun, ternyata sudah banyak peserta dan panitianya. Jauh dari ekspektasi awal, di mana kami mengira bahwa acara seperti ini mungkin tidak terlalu banyak peminatnya, ternyata dugaan kami salah. Kami pun segera mendatangi panitia, tujuannya bukan untuk mengonfirmasi kehadiran, melainkan mendapatkan goodie bag dan kotak kue seperti peserta lain. Maklum, aku belum sempat sarapan pagi itu, tidak tahu kalau dia. Katanya sih sudah, dibekali oleh Ibunya dari rumah, nasi pakai ayam goreng, biar ada tenaga ujarnya. Akhirnya kami sudah sama seperti peserta yang lain, menenteng goodie bag sambil duduk makan kue. Aku memakan kue soes, biar seperti kebanyakan orang Belanda yang sampai sekarang masih mengonsumsinya di kedai-kedai, tapi aku tidak tahu. Aku meneguk gelas plastik yang berisi air mineral, soalnya sedikit haus selama diperjalanan. Selama menikmati kumpulan kue dalam kotak tersebut, kami menikmati keramahan pemandangan Alun-alun yang di tengahnya dihamparkan rumput sintetis. Ada yang duduk santai, bermain bola, berlari-larian, tidur-tiduran, banyak sekali aktivitas disana. Pedagang pun ada, sambil menjajakan barang dagangannya, macam-macam barang dagangannya.

“Aku fotoin kamu disini, mau?”

Nggak ah, malu”

“Kenapa?. Kan masih dibaju?”

“Nanti saja lah, kalau sudah kuat imannya”

“Ramai juga ya disini. Mereka tertawa lepas tanpa beban. Mungkin konteksnya masih liburan juga”

“Iya, sepertinya”

Setelah urusan perut selesai, kami larut dalam percakapan yang panjang hingga lupa bahwa tujuan kita ke Alun-alun bukanlah untuk menikmati pemandangan disana.

“Eh, semuanya udah pada ngumpul. Ayo kesana”

“Eh, iya. Ayo kesana!”

Kami pun bergegas ke tempat semula, bergabung bersama panitia dan peserta yang lain. Kami dikelompokkan di kelompok 3. Banyak juga rombongan peserta dan ada beberapa panitia juga di kelompok itu. Kalau tidak salah, salah satu nama panitianya adalah Alex, laki-laki dan wajahnya sedikit familiar. Pakai kacamata dan rambutnya klimis sedikit berminyak. Ditekan helm sepertinya. Mereka berdiri di depan kami yang sudah membuat lingkaran dan siap mendengarkan penjelasan di hari itu.

“Itu ada orang tua muridku”

“Siapa?”

“Itu”

“Oh. Sok atuh disapa. Nanti kamu dilaporin Kemenkumham”

“Hah?”

“Atas pelanggaran hak untuk disapa oleh sesame manusia seiman dan setakwa”

“Terserah, bodo amat!”

Aku hanya bisa tertawa kecil sambil ikut mendengarkan penjelasan Bang Alex yang menenteng file map berisi foto-foto bangunan bersejarah di forum kelompok ngaleut napak tilas novel Helen dan Sukanta. Kami juga dibekali kertas rute panduan perjalanan, dikemas unik dan menarik, disertai penjelasan singkat di dalamnya. Mungkin agar kami tidak tersesat. Ada juga panitia yang mengambil foto dan video kegiatan. Sebenarnya takut euy, takut nggak kelihatan di video, takut tidak terpotret juga. Tidak apa-apa lah topinya saja atau sepatunya saja yang kelihatan. Biar bisa laporan ke Ibu di rumah bahwa aku benar-benar mengikuti kegiatannya.

Hai ini Sucay. Aku sedang membajak laptopnya Ridwan. Kalau Ridwan protes, biarin ajaaa. Dianya juga lagi warna warnain Doodle Sucay, yang hari ini Sucay beli di Gramedia. Tapi Ridwan banyak protes. Sucay ingin Doodle dewasa tapi Ridwan maunya Sucay beli yang Doodle lucu, yang katanya dewasa tapi kayanya ridwan bohong. Jadi Sucay beli doodle yang monster monster yang lumayan udah remaja. Tadi ucay warnain dikit. Kata Ridwan jangan pelit kalau warrnain. Siap Ridwan!. Besok besok aku sodakoh selalu warna di doodle doodle Sucay hihi. Tunggu doodle aku penuh yaa. Nanti evaluasi sama Ridwan yaa.

Sesungguhnya tulisan di atas, juga bukan buatanku dan sengaja tidak kuhapus, kenang-kenangan. Itu masih tulisan dia saat aku sedang sholat Isya. Sekarang sudah tau kan dia siapa?

Babak 6:

Dalam penjelasan Beliau, Alun-alun tempo dulu dibangun di depan pendopo kabupaten, sehingga keberadaannya merupakan satu kesatuan dengan Masjid Agung dan bangunan pemerintahan lainnya. Alun-alun kota Bandung adalah titik awal mula berkembangnya kota Bandung setelah ibukota (kabupaten) Bandung dipindah dari Dayeuhkolot. Pemindahan itu didasarkan pada perintah Gubernur Jenderal H.W.Daendels.

“Daendels itu yang Anyer-Panarukan, bukan sih?”, tanya salah satu peserta

“Iya, Daendels itu Gubernur Jendral Hindia Belanda yang memerintahkan pembangunan itu”, jawab Alex

“Oh”, jawab peserta yang bertanya

Di masa lalu, Alun-alun menjadi pusat kegiatan masyarakat, terutama untuk golongan pribumi. Ada banyak kegiatan bebas yang bisa dilakukan oleh masyarakat di Alun-alun. Biasanya banyak juga pribumi yang membuka lapak dagangan, baik makanan, minuman, ataupun berjualan macam-macam barang keperluan rumah tangga atau untuk hobi.

“Salah satu yang paling umum dapat ditemukan di Alun-alun adalah …”, ujar Bang Alex.

“Tukang obat, tukang sulap, dan rupa-rupa hiburan gitu, ya?”, serobot salah satu peserta.

Nah iya, betul. Ada tukang obat, tukang sulap, pedagang makanan juga ada”, jelas Bang Alex.

Wah, kayaknya Ibu sudah lebih tau tentang sejarah Alun-alun, ya?. Kelahiran tahun berapa, Bu?”, tanya salah satu panitia yang bawa kamera

“Hahaha.. Soalnya sudah pernah baca”, jawab peserta yang menyerobot jawab tadi.

Semua peserta di kelompokku tertawa, aku tidak. Aku hanya tersenyum, biar berbeda sedikit kalau difoto.

“Kini, pemerintah kota Bandung ingin melestarikan suasana keramaian itu”, jelas Bang Alex.

“Ooh.. “, semua peserta jawab dalam hati sambil mengangguk. Tak lupa mengernyitkan alis, biar terlihat mengerti, tatapannya tidak kosong.

Seperti alun-alun di banyak kota di Indonesia, bagian tengah alun-alun Bandung jaman dahulu, ditanami sepasang pohon beringin yang dilambangkan sebagai pengayom. Satu di antaranya dinamakan Wihelmina-boom karena ditanam untuk memperingati pelantikan Ratu Belanda Wihelmina pada tanggal 8 September 1898. Pohon beringin di sebelahnya yang ditanam tahun 1909, dinamakan Juliana-boom untuk memperingati kelahiran Ratu Juliana. Kedua pohon tersebut sering dijadikan tempat berteduh masyarakat dari teriknya sinar matahari. Namun menjelang pendudukan Jepang, pohon beringin di tengah alun-alun itu tumbang. Kata orang tua jaman dulu, itulah ciciren (tanda-tanda) kejatuhan Belanda pada saat masa penjajahan.

Nah, aku pengen nanya nih ke akang yang sudah baca tadi”, ujar panitia yang pakai kerudung dekat Bang Alex.

Pemuda itu tersenyum diikuti badannya yang sedikit mundur ke belakang. Dua senti kira-kira.

“Hans dan Helen ngapain aja di Alun-alun?”, tanya panitia itu.

“Pacaran, teh”, jawab pemuda itu. Mukanya sedikit familiar bagiku.

Nah iya. Intinya mereka tuh sama seperti pasangan-pasangan pada umumnya, ya”

Beliau juga menambahkan bahwa berkaitan dengan itu, dalam novel Helen dan Sukanta, beberapa kali diceritakan suasana Alun-alun Bandung masa lalu. Misalnya ketika Helen dan Hans bersepeda menghabiskan waktu dan duduk di salah satu teras Alun-alun tempat pedagang soto dan cincau.

“Helen pernah nggak makan cincau?”, tanya salah satu peserta lain.

“Kalau itu, tidak disebutkan dalam novel Hehe ..”, jawab salah satu panitia lain.

“Mungkin pernah kalau dia kehausan”, celetuk salah satu panitia yang membawa kamera.

“Ooh”, jawab semua peserta serentak.

Sejujurnya dalam menuliskan tulisan ini, aku tidak sempat mewawancarai semua panitianya. Sehingga aku kesulitan menamai semua panitianya ketika mereka berdialog. Alex deui, Alex deui.

“Hans pernah makan cuanki, nggak ya?”

“Kayaknya sih nggak

“Oh bener oge. Sieun nyeuri beteung nyak, watir he euh?”

“Hahahaha. Tapi kan disana ada yang jualan obat, ya?”

“Iya, ya?. Kalau sakit perut kan tinggal beli obat, ya?”

“Iya”

“Kalau mau pup langsung ke jamban, ya?”

“Di Masjid Raya Alun-alun kan ada”

“Tapi kayaknya Hans nya nggak mau”

“Kenapa emangnya?”

“Takut ketahuan tinja bangsawan ternyata nggak biru, tapi coklat seperti kebanyakan orang”

“Hihihihi.. Bodoh”

Kemudian Bang Alex menjelaskan sedikit tentang bangunan yang ada di belakangnya. Gedung itu dikenal dengan nama Swarha. Sebagian orang mengenalnya dengan sebutan Swarha Islamic. Gedung ini terletak di pojok Grote Postweg (Jalan Raya Timur) dan Regentsweg (Jalan Kabupaten) atau sekarang berada di samping Masjid Raya Provinsi Jawa Barat (Masjid Agung Bandung) dan di seberang Kantor Pos Besar, Jalan Asia Afrika. Pada 1950-an, Gedung Swarha dibangun untuk dijadikan hotel dan pertokoan. Tidak diketahui secara pasti siapa perancang Gedung Swarha, namun Gedung Swarha dibangun dengan gaya Nieuw Bouwen, suatu aliran yang banyak dipakai arsitek Belanda sebelum Jepang menduduki Hindia Belanda. Gaya ini sering juga disebut gaya Aalbers Look, yakni gaya arsitektur yang terpengaruh oleh rancangan arsitek A.F. Aalbers (arsitek Hotel Savoy Homann).

“Pak, saya mau bertanya”, ujar peserta yang senang menyerobot pembicaraan.

“Iya, Bu. Silahkan”, jawab Bang Alex.

“Kalau BRI Tower itu dahulunya seperti apa bentukannya?”

Sungguh pertanyaan yang sulit, aku pun tidak bisa menjawabnya. Seperti pertanyaan Duel Otak yang dahulu beken di jamannya. Beliau tidak tahu secara pasti seperti apa bentuk dari BRI Tower itu, saking banyaknya sejarah bangunan yang perlu diketahui, khususnya pada tema Ngaleut kaliini. Ibu itu hanya terdiam, tidak mendapatkan jawaban. Aku hanya bisa mengangguk agar telihat paham ketika divideo, sambil mutermuter  mencari spot yang tepat dalam lingkaran, karena nggak kedengeran. Apalagi dia, yang suka marah-marah seperti Farida Fasya, harus jinjit ketika Bang Alex memperlihatkan foto-foto dalam map. Dia hanya kebagian punggung orang saja dan ikut tertawa kalau yang lain ketawa. Miris.

“Ada lagi yang ingin bertanya atau masih kurang puas?”, tanya salah satu panitia.

“Tidak ada. Cukup”, salah satu peserta menjawab.

“Ayo, kita ikuti kelompok lain. Mereka sudah berangkat”, seru panitia itu.

Ah sudah, aku beri nama saja satu per satu panitianya. Asal sajalah, biar aku tidak pusing menulisnya.

Yang pegang map dan jelasin : Bang Alex

Yang jelasin aja dan partner Bang Alex : Widya

Yang jelasin terus kabur 1 : Anjani

Yang jelasin terus kabur 2 : Sofyan

Yang pegang kamera dan jelasin : Imam

 Kami pun segera bergegas meninggalkan Alun-alun Bandung.

“Tebak kita sekarang kemana. Dua juta-eun!”

Nggak tau, memang kemana?”

“Selanjutnya Savoy Homann!”

“Ah sok tahu!”

Kemudian benar, langkah kaki kami diarahkan ke Hotel Savoy Homann. Awalnya, kami jalan berdua, tiba-tiba ada yang menyusul. Akhirnya kami berjalan bersama Bang Alex, bertiga, salah satunya setan, tapi tidak mungkin Bang Alex, karena Beliau pemimpin kelompok. Kami bercengkerama tentang kegiatan acara ini mau kemana saja, juga bertanya tentang alasan mengapa bukan di tempat awal Helen dan Sukanta bertemu, yakni di Ciwidey. Dari perkacapan itu, kami mendapatkan informasi bahwa akan ada penyelenggaraan ngaleut Helen dan Sukanta disana, dalam waktu dekat katanya. Setelah sampai di Hotel Homann, kami berdiri di pojok hotel, seberang De Vries.

Diceritakan bahwa Hans pernah mengajak Helen untuk makan malam di sana dan berbincang-bincang sambil minum Javabier dan memilih menu anggur. Tuan Rudolf, rekan bisnis ayah Helen, Tuan Adriaan, juga pernah menginap di hotel ini, tentu saja ini pilihan wajar mengingat bahwa Homann ketika itu adalah salah satu hotel paling terkenal di Bandung.

Hotel Homann adalah sebuah hotel tertua di Bandung yang berdiri tahun 1870. Hotel ini dibangung oleh pasangan suami istri, imigran dari Jerman. Hotel ini berkembang menjadi hotel paling terkemuka di Bandung sehingga pernah disinggahi oleh tokoh-tokoh penting dan beberapa artis Hollywood.

“Raja serta Ratu Thailand akhir tahun 1890, Perdana menteri India PJ Nehru serta Presiden Mesir Gamal Abdul Naseer tahun 1955, Istri bangsawan dari Westminster, Inggris, juga pernah”, ujar Bang Alex.

“Chalie Chaplin juga pernah, ya?”, tanya Imam.

“Charlie Chaplin serta Mary Pickford tahun 1927, Charlie Chaplin bahkan terdaftar pernah datang lebih satu kali”, jawab Bang Alex.

“Ooh..”, jawab peserta sambil mengernyitkan alis karena kepanasan. Tidak lupa juga mengangguk.

“Bahkan waktu itu, saking banyaknya penggemar Beliau yang sudah menunggu di depan hotel, dibuatlah sosok yang mirip dengan Chaplin untuk mengelabui penggemar. Padahal Chaplin asli sudah kabur lewat pintu belakang, ke Garut”, tambahnya.

Sejak berdiri, hotel ini beberapa kali perubahan bentuk bangunan, dan terakhir kali pada tahun 1937 dirombak menjadi bangunan modern berdasarkan rancangan arsitek A.F. Aalbers.

“Model bangunan Hotel Homann mirip dengan salah satu bangunan di dekat sini. Ada yang tahu?”, tanya Bang Alex.

“…”

“Bank BJB, bukan?”, nyeletuk salah satu peserta.

“Oh iya, ya?!”, diikuti peserta lain yang ikut-ikutan tahu.

Nah, dahulu bangunan itu bernama Bank Dennis”, jawab Bang Alex.

“Ayo, kita lanjutkan perjalanan  lagi. Kelompok lain sudah bergerak ke tempat lain”, seru Dwika.

Kami pun beranjak dari Hotel Homann ke depan Gedung Merdeka, tidak terlalu jauh. Di sana kami dijelaskan sedikit tentang sejarah Gedung Merdeka yang dahulunya bernama Gedung Concordia.

“Gedung ini dahulu dipergunakan untuk dansa para bangsawan”, jelas Widya.

“Yang akhirnya diganti namanya saat dijadikan tempat Konferensi Asia Afrika tahun 1955”, tambah Bang Alex.

Setelah itu, kami berjalan menuju. Kami tepat berdiri di depan Hotel Ibis, yang depan bangunannya terdapat Gedung De Majestic.

“Baik, sekarang kita berdiri di jalan yang dahulunya paling eropa se-Hindia Belanda”, jelas Bang Alex.

“…”, semua orang terdiam menunggu kalimat selanjutnya.

“Kita sebut sebagai jalan Braga atau Bragaweg. Di depan kita ada Gedung De Majestic”, tambahnya.

Sedikit cerita tentang Gedung De Majestic, gedung ini berlokasi di Jalan Braga No 1 Kota Bandung atau lebih tepatnya di samping Museum Konferensi Asia Afrika (KAA). Gedung tersebut pada zaman dahulu merupakan sebuah bioskop pertama di Kota Bandung yang dibangun pada tahun 1925. Sebelum memiliki nama De Majestic, awalnya gedung tersebut memiliki nama yakni Concordia. Dalam sejarah manisnya De Majestic merupakan bioskop pertama di kota ini dan merupakan bioskop yang sukses memutarkan film pertama di Indonesia yakni “Loetoeng Kasaroeng” pada pemutaran perdanannya 31 Desember 1926. Di balik balik secuil sejarah manis yang ada di gedung ini, terdapat sebuah sejarah pahit yang bagi beberapa kalangan anak muda atau para penggiat musik Kota Bandung tidak bisa terlupakan begitu saja dan banyak menyisakan pekerjaan rumah. Sejarah pahit tersebut yakni Tragedi Asia Afrika Culture Center (AACC) yang terjadi pada tahun 2008. Adanya tragedi tersebut, tercatat bahwa gedung De Majestic pernah menorah sejarah pahit dan membuat De Majestic harus beralih fungsi sebagai gedung pertunjukan, pagelaran seni sunda, hingga kegiatan lokakarya. Gedung ini masih berfungsi dan banyak dikunjungi oleh para pengunjung yang datang ke kafe atau datang langsung ke dalam gedung tersebut.

Kembali lagi ke topik bahasan Bragaweg, Beliau menjelaskan bahwa kawasan Braga adalah kawasan pertokoan yang paling bercorak Eropa di Hindia Belanda, sehingga membuat Bandung mendapat julukan sebagai Parijs van Java. Jalan Braga terbentuk sebagai jalur distribusi hasil perkebunan kopi dari gudang kopinya Andries de Wilde di lokasi Balaikota sekarang ke Grote Postweg atau Jalan Asia-Afrika sekarang. Hubungannya dengan novel Helen dan Sukanta adalah Helen dan Hans beberapa kali berjalan-jalan di sekitar Bragaweg. Hans membelikan pakaian untuk Helen di toko Au Bon Marche dan Bonefaas. Namun banyaknya kebaikan Hans yang diberikan kepada Helen, tidak mampu untuk mengubah perasaan Helen padanya. Helen lebih menyukai sosok lain yang dahulu ia kenal di Ciwidey, yakni Sukanta.

Sedikit cerita tentang Au Bon Marche, di sekitar tahun 1913-an, Hagel Eens atau Au Bon Marche adalah toko busana modern yang paling terkenal di Bandung hingga Batavia. Sejarah mencatat, toko ini dimiliki oleh Au Bon Marche dan menjual produk busana elegan dan mahal dari Perancis. Sebelumnya, bangunan bersejarah ini dimiliki oleh keluarga Hagel Eens yang juga menjual produk busana tetapi kemudian memutuskan untuk menjual toko mereka ke Au Bon Marche. Au Bon Marche pun terus menjalankan toko ini tanpa menghilangkan nama keluarga “Hagel Eens” yang sampai sekarang masih terlihat di dinding gedung ini. Sekarang gedung ini dinamai dengan Bandung Creative Forum, di mana di dalamnya terdapat kafetaria, sehingga dapat menghangatkan suasana obrolan.

Setelah kami mengunjungi Gedung Au Bon Marche, tempat Helen dan Hans berkencan, kami bergegas menuju pusat pertokoan dan restoran yang ada di sepanjang jalan Braga itu sendiri. Selama perjalanan, aku membuka topik pembicaraan dengannya, soalnya aku sudah mulai pegal dan bosan. Mungkin karena sudah mulai terik juga.

Heh!”

Hoh..”

“Ternyata, kita teh sering lewat jalan ini, ya ?”

“Iya, Hehe..”

“Kenapa kita nggak bosan lewat jalan ini, ya ?”

“Iya, benar juga. Asa sering. Padahal baru kemarin, ya?”

“Jalan ini selalu menyimpan rindu. Bukan hanya suasananya saja. Melainkan juga bisa merindukan Bandung. Kota yang selalu membuatku betah di Bumi. Kamu mau ikut rindu bersamaku?”

Dia tersenyum padaku sambil berjalan. Tukang becak yang lewat juga ikut tersenyum, tapi bukan ke arahku, melainkan ke arah calon penumpang di sisi jalan depan gedung De Majestic. Tukang becaknya berkumis, warna kumisnya putih, memakai topi warna cream.

“Kamu tahu tidak, itu?”, sambil menunjuk ke arah warung kecil di pinggir jalan dekat Sarinah.

“Warung?”

“Iya, itu warung pertama yang ada di Braga. Bentuknya masih dipertahankan sampai tahun 2019”

Bodo amat

“Kamu tahu tidak, dia siapa?, sambil menunjuk ke arah tukang parkir yang lengkap dengan seragam dinasnya.

“Tukang parkir pertama yang ada di Braga, sampai sekarang belum mati-mati, iya kan?”

“Hahaha.. Sialan, kamu bisa baca pikiran euy!”

Kami pun larut dalam obrolan tidak penting, hingga rombongan kelompok kami sampai di salah satu toko roti yang ada di persimpangan jalan Naripan dan Braga, dahulunya bagian dari saksi kejayaan kuliner Braga tempo dulu. Nama toko roti itu adalah Canary Bakery and Café.

Widya menjelaskan bahwa Canary Bakery & Kafe memiliki historis yang panjang sebagai sebuah sudut kuliner di kawasan Braga. Bermula dengan nama restoran yakni Maison Vogelpoel. Restoran yang awal didirikan pada 1910 ini berubah nama menjadi Toko Es Krim Baltic pada tahun 1930-an. Kala itu, Toko Es Krim Baltic menjadi istananya kudapan es krim di kawasan Braga bagi para penikmatnya dengan hanya bermodalkan bangunan sebesar rumah dengan hanya satu lantai. Toko ini pun hanya bertahan sampai 1970-an hingga pada tahun 1980-an. Bangunan tersebut dibongkar, yang selanjutnya didirikan bangunan gedung baru berlantai empat. Canary Bakery & Cafe hingga kini masih membuat roti legendaris seperti kue bagelen dan pisang bolen, yang paling dicari dan tak boleh ketinggalan yakni kudapan dingin legendarisnya es krim Canary yang merupakan olahan buatan sendiri.

Kemudian, Beliau mempersilahkan para peserta untuk masuk dan berbelanja di toko tersebut. Aku tidak sempat untuk masuk, hanya melihatnya saja dari luar. Mereka membeli es krim dan roti yang direkomendasikan sebelumnya. Beberapa panitia pun ada yang ikut jajan penganan di sana. Tidak ada sangkut pautnya dengan cerita Helen di toko ini.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke salah satu restoran yang terkenal di jalan itu, yakni Maison Bogerijen. Zaman dulu, Maison Bogerijen sangat terkenal dan berkelas karena satu-satunya restoran yang dikunjungi raja-raja Belanda. Pada 1960-an kepemilikan restoran diambil alih orang pribumi dan berganti nama menjadi Braga Permai Restaurant. Dalam cerita novelnya, satu waktu saat turun hujan, Hans mengajak Helen masuk restoran Maison Bogerijen dan makan sosis gulung di sana. Selain itu, Hans dan Helen sempat membeli bunga di Bloemenhandel Braga untuk Bertha yang sedang sakit dan naik delman ke rumahnya di Riowstraat.

“Kapan bisa kesini, ya?”

“Kira-kira berapa harga menu makanannya, ya?”

“Iya, penasaran juga. Kayaknya nyaman sarapan dan makan malam di sini, ya?”

“Sambil ditemani alunan musik. Hehe ..”

“Kalau sendirian buat apa?”

“Memangnya kenapa?”

“Lebih asik bersama kamu”

Dia tersenyum.

Karena langit sudah mulai gelap, ditambah dengan cuaca di kota Bandung yang sudah memasuki musim penghujan, maka Bang Alex menyuruh beberapa panitia lain untuk segera ke tempat selanjutnya, yakni Viaduct.

“Kami tunggu peserta lain masih ada yang tertinggal di belakang”, ujar Anjani dan Imam.

“Tunggu peserta lain dulu, ya”, seru Widya.

Mereka pun segera menyusul beberapa kawanan peserta yang sedikit tertinggal di belakang. Setelah semua peserta di kelompokku lengkap, kami bergegas menuju Jembatan Viaduct dengan berjalan kaki. Selama di perjalanan, wajah-wajah lelah pun sudah terlihat. Aku membuka obrolan dengan Widya, menanyakan soal gedung toko olahraga yang berada di perempatan, tepat di depan jalan Suniaraja. Dahulu toko itu cukup terkenal, menyediakan dan menjual peralatan musik yang biasa digunakan oleh para penghibur restoran maupun hotel. Dia pun berasumsi bahwa biola yang diberikan teman ayahnya Helen, yang dari Itali, berasal dari toko ini. Karena teman ayah Helen juga tinggal di Bandung saat itu.

Sampailah kita di bawah jembatan Viaduct, dijelaskan bahwa Viaduct dibangun untuk menghindari dua lintasan jalan seperti jalur jalan raya dengan jalur kereta api. Jalur ini menjadi penting untuk jalur transportasi yang menghubungkan Bandung dengan kota-kota lainnya. Ada dua Viaduct di Bandung, satu di Pasirkaliki (1924), dan satu lagi di Kebonjukut (1938).

“Apa lagi yang kalian ketahui tentang jembatan ini?”, tanya Widya.

“Pemisah antara Bandung utara dan selatan, kah?”, jawab salah satu peserta yang berkerudung biru.

Nah iya. Jembatan ini juga menjadi salah satu pemisah Bandung utara dan selatan”, jelas Widya.

Beliau juga mengaitkannya dengan novel yang kita bahas, bahwa Helen disuruh ayahnya untuk meneruskan sekolah di Bandung, yaitu di HBS. Pemindahan Helen ke sekolah itu sebenarnya ada tujuan lain, yaitu untuk menjauhkan Helen dari Sukanta yang saat itu sudah semakin terlihat akrab. Ayah Helen tidak mau Helen pacaran dengan Sukanta, lalu ia bersikeras menyekolahkan Helen di sana. Helen sering menggunakan moda kereta api untuk berpergian. Tentunya bisa dipastikan Helen sering melewati lokasi Viaduct, baik sebelum ada Viaduct ataupun setelahnya. Setelah kami sudah merasa puas dengan penjelasan di jembatan Viaduct, kami bergegas untuk ke Bandoengsche Melkcentrale, disingkat BMC.

Dalam satu bagian novel diceritakan ulang tahun Helen dirayakan oleh kawan-kawannya di kafetaria BMC, alamatnya di Kebonsirihweg 58. Yang ikut hadir merayakan adalah Boengke, Bertha, Emile, Karel, Dirk, dan Ryus. Pada masa itu BMC memang popular sebagai tempat minum atau bersantai. Selain kedai milik BMC, di sebelahnya pernah berdiri kedai susu lain yang didirikan oleh perusahaan lain. Bang Alex menceritakan bahwa BMC adalah sebuah koperasi susu untuk wilayah Bandung dan sekitarnya. Ketika Sukanta, tokoh utama dalam novel tersebut, bekerja di sebuah leveransir di Lembang, dia bertanggung jawab dalam penyediaan susu sapi segar untuk Hotel Homann. Susu yang dikirim ke pelanggan biasanya ditampung dulu di BMC untuk diolah agar siap minum.

Dalam penjelasan tersebut, aku sudah mulai tidak fokus untuk mendengarkan semua penjelasannya. Lebih memilih memperhatikan lingkungan sekitarku, tidak seperti mereka, apalagi dia. Aku juga lebih memperhatikan pos satpam yang dibangun di sekitar area rumah warga, dekat pinggir jalan, daripada BMC-nya. Pos satpam itu terlihat lebih menarik perhatianku saat itu, karena di balik kacanya terdapat tumpukan bungkus rokok yang merknya sama semua.

Heh, sini!”

Hah, ada apa?”, dia menghampiriku.

“Coba lihat ke sana!”, sambil menunjuk pos satpam di rumah itu.

“Kemana?”

Mungkin arah matanya ke tukang sate. Jadi tidak fokus.

“Itu loh pos satpam. Edan, tumpukan bungkus rokok kabeh euy

“Oh iya. Hahaha..”

Sigana si eta pemasok rokok terbesar se-Asia Tenggara euy. Unggal poe ngudud. Teu sesek napas kitu?”

“Ahahahaha. Kayaknya itu lemari dari tumpukan rokok, ya?”

“Semacam eco brick maksudmu?”

“Iya. Hahaha..”

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Atjehstraat, sekarang disebut jalan Aceh.

“Baik, sekarang kita sudah berada di sekitaran rumah Helen”, ujar Bang Alex.

“Itu ada nama Helen nya!”, celetuk salah satu peserta, wujudnya ibu-ibu paruh baya.

“Iya, tapi itu bukan rumah Helen. Hanya kita mengira-ngira saja. Nampaknya sekitar sini”, jelas Bang Alex.

“Biasanya bangunan jaman Belanda kalau tidak diberi tahun pembuatan, biasanya nama keluarga yang dicantumkan”, tambah Widya.

Selama bersekolah di Bandung, Helen disewakan sebuah rumah di sana oleh orangtuanya. Rumah ini mungkin terletak di belakang Balaikota sekarang atau di ruas sisi selatan BIP sekarang, dekat jalan Sumatra.

“Di sini Helen tinggal bersama Sitih, …”

“Ini rumah Helen, ya?”, tanya peserta yang sering menyerobot obrolan Bang Alex.

“Bukan, Bu. Ini hanya perkiraan saja”, jawabnya.

“Di sini Helen tinggal bersama Sitih, baboe asal Sumedang yang menjadi pengasuhnya sedari bayi di Ciwidey”, sambungnya.

“Ooh..”, jawab peserta lain yang datang terlambat, kejebak lampu merah di depan BIP.

Letak rumah sewa Helen di pusat kota dan dekat dengan Gemeentehuis (Balaikota) membuat akses ke tempat-tempat lain mudah ditempuh, ke gereja di Javastraat tinggal berjalan kaki sedikit saja, begitu juga ke rumah temannya, Bertha, yang tinggal di Riouwstraat. Walaupun tidak dijelaskan dengan rinci lokasinya, bisa jadi rumah Hans yang mewah di Dagostraat pun tidak jauh letaknya dari rumah Helen. Jarak tempuh ke Insulindepark, Molukkenpark, dan ke sekolahnya di HBS pun tidak terlalu jauh.

Selama penjelasan tersebut, badanku sudah mulai gelisah.

“Hei, kamu lapar, ya?”

“Sakit kaki, pegel euy

Kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke gedung SMAN 3 & 5 Bandung menyusuri trotoar jalan di depan Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani. Langkah kaki sudah mulai gontai disertai rasa lapar yang menahun. Rasanya ingin cepat sampai di tempat tujuan, yakni Kantinasion. Untuk mengusir kejenuhan dalam perjalanan, aku bercengkarama sedikit dengannya. Siapa tau sedikit terobati dengan tertawa.

“Aku tau sekolah ini dulunya apa?”, dengan nada penuh keyakinan, sambil menunjuk foto di peta panduan.

“Apa memangnya?”

“Sekolah pariwisata seperti ENHAI”, dengan raut wajah penuh keyakinan, begitu pula dengan nadanya.

“Ah, yang benul?”

“Iya betul. Coba iqro, Hoogere Burgerschool. Burger, nama roti yang suka kita makan itu loh

“Ah, bodoh. Bukan itu maksudnya!”

“Eh, kan ada nama burgernya?”

“Iya, tapi bukan itu maksudnya. Masa sekolah pembuat burger sih?”

“Hehehe. Siapa tau”

Kami larut dalam obrolan singkat. Hingga akhirnya, kami sampai di depan gerbang sekolah yang dahulunya dinamai Hoogere Burgerschool atau disingkat HBS. Di sana kami sudah ditunggu oleh Imam Besar The Panasdalam, Pidi Baiq. Beliau datang menggunakan kaos hitam dan celana pdl corak loreng tentara. Di kaosnya ada logo The Panasdalam, ukurannya kecil. Beliau ditemani oleh seorang lelaki. Laki-laki itu baik, mau mengantarkan Pidi hingga ke HBS dengan mobil, bukan becak. Beliau bersama panitia yang lain menjelaskan bahwa HBS adalah sekolah setingkat SMA khusus dari kalangan Eropa atau yang statusnya disamakan. Hanya segelintir orang pribumi yang bisa menyekolahkan anaknya di sekolah ini. Biasanya anak-anak pejabat pribumi. HBS dirancang oleh arsitek yang identic dengan kota Bandung, yaitu Wolff Schoemaker. Bangunannya megah dan memukau, terutama dari bagian dalam gedung. Di sini terdapat tangga marmer yang kokoh, menghubungkan lantai satu dan dua. Di lantai dua ini ada lorong yang bersambung dengan sekolah lain, yaitu AMS, yang sekarang menjadi SMAN 5 Bandung.

“Dalam ceritanya, Helen teh disuruh ayahnya sekolah di sini. Tapi, bisa dibilang ogah-ogahan buat sekolah. Rebel-lah mun ceuk urang mah, nyak?”, tutur Pidi.

Pan sakola ieu mah terkenal taat pada aturan. Matakna, kesempatan ceuk si Helen teh. ‘Ah, urang ngahereuyan guru baru weh senah’. Guru ppl-lah mun ayeuna mah”, tambahnya.

“Kenapa?”, celetuk Widya.

Meh dikaluarkeun ku sakolana”, jawab Pidi.

“Ooh..”, jawab semua pendengar sambil melipat tangannya.

Kemudian obrolan dilanjutkan dengan tema Crossboy, di mana akan diangkat dalam buku Pidi Baiq berikutnya. Kalau tidak salah, akan menceritakan tentang Bandung tahun 70-an, di mana dari sana akan muncul nama-nama besar sebuah geng motor di Bandung. Karena langit sudah mulai gelap, pertanda akan hujan, maka kami segera meninggalkan tempat itu dan langsung menuju Kantinasion yang ada di jalan Ambon. Namun, Pidi bersama rekannya masih di sana, menunggu kelompok lain yang datang. Pidi tidak akan kehujanan karena dia naik mobil, sedangkan kami kehujanan karena pakai kaki.

Di peta panduan dijelaskan bahwa dalam novel Helen dan Sukanta, sekilas keberadaan seorang dokter ahli saraf dan kejiwaan bernama Dr. Crans dengan alamat di Ambonstraat, sekarang lebih dikenal sebagai jalan Ambon. Sayangnya, kami tidak sempat untuk melihat keberadaan sisa-sisa peninggalan di cerita tersebut, karena kami lebih memilih untuk tidak kehujanan di perjalanan. Namun, ditengah perjalanan menuju Kantinasion, kami harus rela hujan membasahi tubuh kami. Dengan sigap kami berlari, menutup kepala kami dengan goodie bag. Takutnya pusing dan nggak bisa mikir nantinya.

Babak 7:

Akhirnya, kami sampai dengan setengah basah kuyup. Untung masih ada angin yang bisa mengeringkan baju kami perlahan di sana. Sudah ada kelompok lain yang menunggu kami disana. Mereka beristirahat sambil berbincang dengan peserta dan panitia lainnya. Setidaknya, mereka tidak terlalu kedinginan dengan hujan kala itu. Di Kantinasion, kami disuguhkan acara diskusi bersama Pidi dan Ridwan.

“Mau pesan nggak?”

“Mau nyobain kopi aceh. Kamu mau apa?”, sambil menunjuk ke arah kedai yang dipunggunginya.

“Mau kopi Cappucino

Oke, sebentar ku pesankan, ya?”, sambil beranjak dari bangku dengan sedikit membungkuk.

“Iya, sok

Para panitia dan peserta menikmati suguhan terakhir dari acara Ngaleut Helen dan Sukanta. Suasana sangat hangat tercipta disana, ada canda, tawa, pertanyaan, jawaban, serius, dan tidak serius. Acara diakhiri dengan foto bersama dengan latar cover Helen dan Sukanta. Semuanya tersenyum, tidak ada yang tidak. Karena kalau tidak senyum, nanti disangka nahan tinja. Semua pulang dengan selamat dan sentosa, tidak tahu caranya bagaimana. Kalau aku, harus kembali ke jalan Naripan untuk mengambil motor yang terparkir di sana.

Nge­-Grab, aja?”

Nggak usah. Ada sopir Angkotyang setia. Kita jalan dulu dari sini sampai ke jalan besar”

“Jalan Riau? Riouwstraat?”

Sok Belanda lau. Hahaha.. Iya, balik lagi ke sekolah Burger. Lalu, naik Angkot jurusan Kalapa”

“Oh, baiklah”

Dalam perjalanan kami tidak terlalu banyak bercanda, fokus ke Angkotnya saja, takut terlewat. Takut tambah jauh lagi jalannya atau sudah benar-benar kelelahan. Selama di Angkot juga begitu, diam tanpa kata, terkadang sesekali berbisik, penumpang sebelah ikut penasaran.

“Kita turun di sini, atau di mana?”

Ih, macet sekali. Di Preanger aja, ya?”

“Kejauhan. Di sini saja, lebih dekat dengan Bank Dennis”

“BJB?”

“Iya. Hehehe..”

Tahukah kamu, mobil benar-benar berada di tengah kawanan mobil lain yang berbeda-beda jenisnya, ada juga yang sama tapi beda supirnya, beda juga penumpangnya. Tersendat seperti ada si Komo yang lewat. Ragu untuk melanjutkan perjalanan hingga perempatan Hotel Preanger.

“Kiri!”

“Bapak, yakin?”

“Bukan, saya Ridwan, Pak”

Euh, hereuy

“Bapak yakin mau turun di sini?”

“Iya, Pak. Macet soalnya”

Sok atuh, hati-hati”

Punten, ieu ongkosna, Pak”

Nya, nuhun

Kami pun bergegas turun dan menyeberangi jalan yang ada zebra cross-nya, biar selamat. Akhirnya sampai juga.

Epilog:

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 20.30, sudah larut malam menurut jam tangan kami. Sadar diri, rumah kami jauh. Kami benar-benar larut dalam obrolan yang menyenangkan.

“Lalu, apalagi?”

“Mungkin udah semua kali, ya?. Hahaha..”

Eh, coba liat!”

Edan, teu karasa kieu nyak. Di sini mah semakin lama, semakin ramai, ya?”

“Kenapa kita tadi nggak duduk disana, ya?. Padahal sampai sekarang masih kosong, ya?”

“Mungkin pas masuk, kita lupa pakai baju Eropa!”

Ah, iya bener juga, yak?. Ahaha.”

“Ahahaha”

Kami pun tertawa begitu riang. Tawa yang bisa membuat kami lebih baik daripada hari kemarin. Tawa yang bisa menciptakan ketenangan dalam kenangan. Kami menyudahi perbincangan dengan membalikkan sendok dan garpu kami masing-masing di atas meja. Makanannya sudah ludes habis, masuk ke kantong perut yang isinya lambung dan aneka macam usus. Kami bergegas meninggalkan meja dan menuju kasir untuk mendermakan uang kami disana. Malam itu adalah malam yang cukup panjang bagi kami berdiskusi.

“Kamu seneng nggak?”

“Iya, seneng. Kalau kamu?”

“Senang ada kamu. Senang bisa berbagi cerita menyenangkan di tempat yang menyenangkan”

Ah, sa ae lau

“Hahahaha..”

Kami pun kembali ke jalan Naripan, tempat di mana kami memarkirkan kendaraan di sana, sama persis dengan apa yang ku ceritakan sebelumnya. Sengaja, biar kami semakin ingat dan terbiasa untuk parkir di sana. Kami berjalan kaki, menikmati keindahan di sepanjang jalan Braga malam itu. Tahukah kamu, aku masih optimis hingga hari ini, bahwa cerita ini menguatkan rinduku pada Bandung, kotaku.

Tamat

Bandung, 14 Januari 2020

, diketik di laptop berwarna gelap

Advertisement

Published by Ridwan Lamuda

Perkenalkan namaku Ridwan Nurhaq Lamuda. Jika sulit untuk menghafal nama panjangnya, hafalkan saja nama panggilannya, Ridwan. Sederhana dan pasaran, sengaja, agar lebih mudah diingat. Aku lebih senang menulis cerita-cerita yang berkaitan tentang memori hidupku di masa lalu. Tulisanku tidak terlalu memperhatikan Ejaan yang Disempurnakan (EyD). Selain berkecimpung dalam ruang tulis menulis, saya juga suka menggambar, bisa dinikmati di laman yang lain.

5 thoughts on “Sepanjang Jalan Kenangan Helen

  1. Enak banget lho, saya bacanya. Panjang tapi enggak bikin bosan. Saya baca sampai tuntas-tas-tas. Gaya berceritanya bagus, santai dan ngalir. Dari sini walau saya belum pernah ke Bandung, tetapi bisa kebayang lewat cerita-ceritanya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: